Home » Ekonomi » Warga Mamasa diminta tanam gaharu yang laku Rp60 juta/pohon

Warga Mamasa diminta tanam gaharu yang laku Rp60 juta/pohon

Jum`at, 18 September 2015 04:54:22 - Dibaca : 1394

Warga Mamasa diminta tanam gaharu yang laku Rp60 juta/pohon

Bibit pohon gaharu itu murah hanya sekitar Rp5000, itu bagus dikembangkan masyarakat dibandingkan merusak hutan dengan cara membakar untuk berladang berpindah-pindah."
Mamuju (ANTARA News) - Masyarakat di Kecamatan Aralle Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi Barat diminta menanam pohon gaharu yang bernilai ekonomi tinggi dari pada merusak hutan untuk berladang berpindah-pindah.

"Bibit pohon gaharu itu murah hanya sekitar Rp5000, itu bagus dikembangkan masyarakat dibandingkan merusak hutan dengan cara membakar untuk berladang berpindah-pindah," kata Arul salah seorang warga Kecamatan Aralle Kabupaten Mamasa di Mamuju, Jumat.

Ia mengatakan, pohon gaharu bernilai ekonomis tinggi karena ketika dijual mencapai Rp60 juta perpohon.

"Kalau pohon gaharu telah dapat dijual setelah dikembangkan delapan tahun, maka batangnya akan dicari pembeli karena pohon tersebut memiliki batang yang di dalamnya terdapat cairan yang mampu diolah menjadi obat, pewangi dan berbagai manfaat lainnya disamping kayunya bisa untuk bahan bangunan," katanya.

Menurut dia, di Kecamatan Aralle pengrusakan hutan di Kecamatan Aralle terus terjadi yang dilakukan sebagian masyarakat padahal berdampak buruk bagi lingkungan karena membuat sumber air masyarakat semakin langka.

"Semakin susah di sekeliling kampung ditemukan sumber air bersih padahal dulunya sangat mudah akibat kerusakan hutan di Mamasa karena sebagian kecil warga suka berladang berpindah-pindah dengan membakar hutan untuk membuka lahan pertanian baru," katanya

Hutan gundul karena dirusak, akibatnya sumber air jadi susah dan kini dirasakan dampaknya sebagian besar masyarakat, apalagi di saat musim kemarau seperti sekarang ini, debit air sungai di Kecamatan Aralle yakni sungai Malaluna yang selama ini menjadi sumber air petani padi menjadi kering akibat pembalakan hutan.

"Dampak lain dirasakan juga karena saluran irigasi padi petani menjadi kering tidak seperti 10 dan 20 tahun lalu, petani padi tidak pernah kekurangan air karena hutan masih mampu menampung air, tidak seperti sekarang hutan gundul dan tidak mampu menyerap air maksimal untuk kebutuhan petani padi, membuat petani padi menjadi risau sebab air yang menjadi sumber penghidupan mereka dari bertanam padi berkurang dan mempengaruhi produksi pertanian mereka," katanya.

Ia berharap, perusakan hutan dapat dihentikan melalui jalur hukum oleh pemerintah agar sektor pertanian padi dapat didorong untuk membangun ekonomi daerah, selain itu, hutan yang menjadi paru-paru dunia dapat terus dilindungi dengan menanam tanaman bernilai ekonomis yakni pohon gaharu tersebut.

Sumber :