Home » Ekonomi » Istilah Ciamis “Kota Pensiun” harus diubah

Istilah Ciamis “Kota Pensiun” harus diubah

Jum`at, 29 September 2017 14:04:32 - Dibaca : 41

Istilah Ciamis “Kota Pensiun” harus diubah

Jakarta (Antara) – Kabupaten Ciamis yang berlokasi di Jawa Barat harus berbenah agar tak lagi dicap sebagai “Kota Pensiun”. Pasalnya, istilah kota pensiun tersebut membuat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Ciamis merosot dibandingkan kabupaten-kabupaten lainnya di Jawa Barat.

Hal ini disampaikan tokoh masyarakat sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Ulum Ciamis H. Arief Ismail Chowas di kantor PKB Jakarta, Rabu (27/9). Menurutnya, pertumbuhan ekonomi di Ciamis hanya mencapai sekitar 5 persen, sedangkan rata-rata kabupaten di Jawa Barat mencapai 6 persen. “Tentu ada hal yang harus dibenahi di sini,” terangnya.

Pertumbuhan ekonomi tersebut dipengaruhi oleh pemekaran Banjar dan Pangandaran. Semenjak Banjar dan Pangandaran berdiri menjadi kota dan kabupaten, Ciamis banyak kehilangan potensi pariwisata dan pertanian.

Pemerintah daerah, lanjut Arief, belum maksimal memainkan perannya. “Penyerapan tenaga kerja di Ciamis rendah dikarenakan minimnya investor melirik Ciamis untuk pengembangan bisnis mereka,” kata lelaki yang juga calon bupati Ciamis tersebut.

Banyaknya pesantren di Ciamis, menurut Arief bisa dimanfaatkan untuk pertumbuhan ekonomi. Saat ini dirinya terus melatih para santri untuk menjadi entrepreneur. “Produk-produk khas Cimahi yang dihasilkan oleh santri ke depannya akan dipasarkan ke luar Cimahi. Dengan begitu ditra Ciamis akan lebih dinamis ekonomi terus tumbuh,” terangnya.

Perlu diketahui, saat ini Arief telah melatih 20 entrepreneur di 20 pesantren di Ciamis. Ia bekerja sama dengan BUMN-BUMN terkait yang mempunyai program wirausaha.

Setali tiga uang dengan Arief, Ketua DPC PKB Ciamis Imam D Kurnia mengaku perlu ada kreativitas di Ciamis agar investor melirik kabupaten tersebut.

Ia melanjutkan, untuk industri kayu saja Ciamis jauh tertinggal. Saat ini pabrik-pabrik kayu berada di Banjar, sedangkan 70 persen kayu berasal dari Ciamis. “Dengan begitu, para pekerja malah lari ke kabupaten di sebelah Ciamis,” tuturnya.

Potensi-potensi tersebut ke depannya harus dimaksimalkan kembali. Ciamis harus bisa memanfaatkan potensi yang ada untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. “Pekerjaan ini harus dilakukan oleh pemimpin Ciamis di masa yang akan datang,” tutup Imam.

Sumber :