Home » Musik » Penderita Thalassemia Hidup Normal Berkat Musik

Penderita Thalassemia Hidup Normal Berkat Musik

Sabtu, 16 Agustus 2014 16:44:41 - Dibaca : 1242

Penderita Thalassemia Hidup Normal Berkat Musik

Laporan Tribun Jateng, Galih Pujo Asmoro

TRIBUNNEWS.COM -  Bunga Dea Regina (19), salah seorang penderita thalassemia mempunyai kiat sendiri agar bisa hidup normal. Salah satunya adalah berkecimpung di dunia musik.

Pliss pliss plis maafin aku.. Plis jangan marah padaku... Pliss dengarkan aku dulu... Ku tak bermaksud menyakitimu ...

Demikian lirik lagu "Pliss" disenandungkan dengan merdu oleh Bunga Dea Regina. Sejak masih duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP), mahasiswi semester 3 Unika Soegijapranata itu menjadi anak band. Saat ini, bersama Reza, Hapsara, dan David, ia tergabung dalam Assatu Band.

Ketika berjumpa dengan Tribun Jateng, Jumat (8/8) lalu, tidak ada yang aneh dengan gadis berambut lurus ini. Namun, usai menyanyikan lagu yang sedianya menjadi single Assatu tersebut, Dea mengungkapkan hal mengejutkan. Ia mengidap thalassemia.

Thalassemia adalah kelainan darah dimana penderitanya mengalami ketidakseimbangan dalam produksi hemoglobin (Hb). Penderita thalassemia tidak mampu memroduksi Hb dalam jumlah cukup sehingga sel darah merahnya tidak terbentuk sempurna. Akibatnya Hb tidak dapat mengangkut oksigen dengan jumlah sempurna. Hal itu berujung dengan anemia yang dimulai sejak usia anak-anak hingga sepanjang hidupnya.

"Karena thalassemia, saya tiga kali hampir lumpuh," kata gadis kelahiran 9 Juli 1995 tersebut.
Kali pertama Dea mendapat serangan dan tahu mengidap thalassemia, ketika kelas 6 Sekolah Dasar (SD). Kemudian disusul saat ia kelas 3 Sekolah Menengah Atas (SMA) dan terakhir ketika menginjak semester 1 di perguruan tinggi.

Setiap mendapat serangan, Dea merasa tubuhnya di bawah panggul mati rasa. Bahkan ketika kali kedua, ia butuh berbulan-bulan untuk bisa pulih."Saat Ujian Nasional, saya harus digendong. Lokasi ujian di lantai 3. Serangan biasanya berawal dari kelelahan," sambung lulusan SMA Virgo Fidelis, Bawen tersebut.

Diceritakannya, dua kali serangan terakhir didapatnya justru seusai pentas. Sebelum pentas, Dea harus berlatih keras. Pun saat di panggung. Lantaran begitu bersemangatnya, Dea terkadang lupa dengan thalassemia yang diidapnya.

Namun thalassemia tidak membuat anak kedua dari tiga bersaudara tersebut menyerah. Dea mengaku selalu merindukan suasana panggung dan teriakan penonton. Hal itulah yang membuatnya tak bisa meninggalkan dunia musik.

"Saya tidak boleh stres dan kelelahan jika tak ingin mendapat serangan lagi. Tapi keinginan untuk manggung selalu muncul. Musiklah yang membuat saya tidak mau menyerah pada penyakit yang tidak ada obatnya ini," urai pemilik IPK 3,78 tersebut.

Usaha keras Dea berbuah manis. Selasa (12/8) kemarin, Assatu merekam single Pliss yang diciptakan oleh Gavet, personel Hello Band. Seusai rekaman, Assatu akan menggelar promo."Promo mulai 24 Agustus di Semarang, Ambarawa, Salatiga dan Jakarta. Dimulai dari Lapangan Panglima Besar Jenderal Sudirman Ambarawa bersama Fatin Idol," ujarnya.

Tiga kali serangan yang didapatnya membuat Dea "berpengalaman". Saat menggelar promo single, dara kelahiran 9 Juli 1995 tersebut akan mengurangi aktifitasnya jika fisiknya terasa lelah.

Dea tidak memikirkan mati

Dea harus menjaga kondisi fisiknya. Menurut keterangan dokter, akan sangat berbahaya jika ia kembali terkena serangan akibat thalassemia. Ada kemungkinan ia mengalami lumpuh total."Kata dokter yang merawat rentang waktu hidup saya antara 19 tahun hingga 37 tahun. Tapi saya tak pernah memikirkan itu," ucapnya.

Meskipun berusaha menjaga dirinya dengan baik, tanda-tanda serangan thalassemia masih sering dirasakannya. Acap kali, Dea merasa jemari kakinya mati rasa. Jika sudah demikian, ia langsung mengonsumsi obat yang harus rutin diminumnya.

Untuk "melupakan" penyakitnya, selain bermusik, Dea mengaku "menjaga jarak" dengan penderita thalassemia lain. Ia khawatir, jika kerap berkomunikasi justru malah akan selalu mengingatkannya akan thalassemia.

Bagi penderita thalassemia lainnya, Dea berharap agar tidak menyerah dengan penyakit. Menurutnya, meninggal adalah hal yang pasti bagi manusia."Yang penting kita berguna. Saya ingin sukses dan membuat orangtua bangga," kata dia.

Apa yang diderita Dea, membuat rekan-rekannya di Assatu memberi perhatian lebih. Sang gitaris, David selalu mengingatkan Dea untuk minum obat secara rutin dan menghindari pantangan.

Dea, kata mahasiswa Universitas Guna Dharma, Jakarta itu, harus mengonsumsi sayur setiap hari. Di samping itu, vokalis band yang digawanginya tersebut juga harus minum obat secara teratur. "Dea kadang susah minum obat. Jadi kami harus rutin mengingatkannya," terang David.

Sumber :